- Hari ini Jakarta merayakan ulang tahunnya ke-484. Sejumlah warga Jakarta menaruh banyak harapan pada penguasa kota metropolitan ini. Sebagian besar warga berharap agar gubernur bisa membenahi masalah transportasi dan banjir yang selama ini akrab dengan Jakarta.
"Mudah-mudahan tidak macet lagi. Bisa menemukan solusi untuk atasi transportasi umum, banjir juga bisa teratasi," kata Idham 28 tahun, salah seorang pegawai swasta saat ditemui di daerah Kembangan, Jakarta Barat, Rabu 22 Juni 2011.
Selain masalah transportasi, Idham juga berharap masalah kebersihan di Ibu Kota bisa diperbaiki. Menurutnya, masalah kebersihan dan banjir sangat berkaitan sehingga harus dibenahi secara bersamaan. "Soal sampah, Pemerintah Jakarta harus tegas," kata Idham tersenyum.
Harapan serupa diungkapkan Usoy, 38 tahun, seorang tukang ojek di daerah Kebun Jeruk. Efek kemacetan ibu kota yang semakin parah, kata Usoy, bisa membuat penghasilan dia dari mengojek berkurang.
"Kalau lancar, saya kan bisa ngider lebih sering. Pemasukan lebih banyak. Kalau sekarang, kan, memakan waktu karena macet. Badan juga letih," kata pria asli Betawi itu lagi.
Selain masalah banjir dan macet, Anwar, 34 tahun, pedagang minuman yang biasa berjualan di sekitar Mal Puri Indah, Kembangan, juga menyoroti masalah peluang kerja dan keamanan sebagai hal yang harus dipenuhi pemerintah DKI Jakarta.
Dua hal itu, menurut Anwar, dibutuhkan agar masyarakat menengah ke bawah seperti dia tetap bisa bertahan hidup di Jakarta.
"Pemerintah mungkin lebih tegas terhadap preman yang suka malakin pedagang kecil. Kalau dipalakin, saya bisa untung dari mana?" kata dia.
Di tengah harapan warga akan perbaikan yang terus memuncak, penguasa Jakarta masih terbuai dengan mimpi megacity.
Menyambut ulang tahun Jakarta yang ke-484 hari ini, Gubernur Fauzi Bowo menyatakan nantinya Jakarta akan menjadi sebuah megacity atau kota besar dengan lebih dari 10 juta penduduk. "Salah satu dari 20 megacity yang ada di dunia," ujarnya di dalam rapat paripurna DPRD DKI Jakarta Selasa 22 Juni 2011.
Sebagai megacity, menurut Fauzi, Jakarta tidak hanya akan berkembang selain sebagai pusat ekonomi Indonesia, tapi juga akan menjadi salah satu pusat ekonomi dunia. "Oleh karena itu, Jakarta harus dipersiapkan dengan baik karena akan dituntut untuk menyediakan prasarana dan sarana kota yang kualitasnya sesuai dengan standar dunia."
Masih menurut Foke, persiapan itu telah disiapkannya dalam Rancangan Peraturan Daerah mengenai Rancangan Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Jakarta 2030 yang saat ini masih dalam pembahasan DPRD. "Rancangan itu juga telah mengantisipasi tren pertumbuhan kawasan Greater Jakarta (Jabodetabekjur) yang akan dihuni oleh sekitar 30-35 juta jiwa pada tahun 2030," ujarnya.
Saat ini, Jakarta memang masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diatasi. Yang paling menonjol tentu adalah masalah macet dan banjir. Namun Fauzi Bowo tetap optimistis, "It is difficult, but not impossible," ujarnya.
Sebagian besar warga berharap agar gubernur bisa membenahi masalah transportasi dan banjir yang selama ini akrab dengan Jakarta.
"Mudah-mudahan tidak macet lagi. Bisa menemukan solusi untuk atasi transportasi umum banjir juga bisa teratasi," kata Idham 28 tahun, salah seorang pegawai swasta saat ditemui di daerah Kembangan, Jakarta Barat, Rabu 22 Juni 2011.
Selain masalah transportasi, Idham juga berharap masalah kebersihan di Ibu Kota bisa diperbaiki. Menurutnya, masalah kebersihan dan banjir sangat berkaitan sehingga harus dibenahi secara bersamaan. "Soal sampah, Pemerintah Jakarta harus tegas," kata Idham tersenyum.
Harapan serupa diungkapkan Usoy, 38 tahun, seorang tukang ojek di daerah Kebun Jeruk. Efek kemacetan ibu kota yang semakin parah, kata Usoy, bisa membuat penghasilan dia dari mengojek berkurang.
"Kalau lancar, saya kan bisa ngider lebih sering. Pemasukan lebih banyak. Kalau sekarang, kan, memakan waktu karena macet. Badan juga letih," kata pria asli Betawi itu lagi.
Selain masalah banjir dan macet, Anwar, 34 tahun, pedagang minuman yang biasa berjualan di sekitar Mal Puri Indah, Kembangan, juga menyoroti masalah peluang kerja dan keamanan sebagai hal yang harus dipenuhi pemerintah DKI Jakarta. Dua hal itu, menurut Anwar, dibutuhkan agar masyarakat menengah ke bawah seperti dia tetap bisa bertahan hidup di Jakarta.
"Pemerintah mungkin lebih tegas terhadap preman yang suka malakin pedagang kecil. Kalau dipalakin, saya bisa untung darimana?" kata dia.
